Kamis, 04 Oktober 2012

Mayoritas Warga Kampung berjari tiga - Dusun Ulutaue Desa Mario





Sebuah kampung yang kebanyakan warganya cacat ditemukan di Dusun Ulutaue, Desa Mario, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Hampir semua penduduknya mengalami kelainan fisik, yakni hanya berjari tiga, baik kaki maupun tangan. Kelainan ini dialami warga mulai dari yang berusia bayi hingga lanjut usia. Salah seorang sesepuh kampung yang ditemui Kompas.com, Minggu (11/3/2012), mengatakan, kelainan fisik itu sudah terjadi turun-temurun. Mereka bahkan sudah pasrah karena meyakini bahwa yang mereka alami itu sudah digariskan oleh nenek moyang.“Ini sudah keturunan, mulai dari nenek kami begini semua. Keturunan kami yang lahir pasti begini semua. Walaupun ada yang normal, tetapi kalau ada anaknya, begini juga tangannya,” kata Umbang, sesepuh kampung tersebut.

Di tengah keterbatasan itu mereka tetap menjalani kegiatan sehari-hari sebagai nelayan. Sebagian besar dari mereka hidup miskin. Mereka juga cenderung menutup diri dari dunia luar. Mereka mengaku selama ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Belum ada layanan kesehatan, apalagi penelitian medis terkait kondisi turun-temurun yang mereka alami itu. Kurangnya perhatian itu dikeluhnya warga. “Kalau memang mau, mestinya pemerintah datang menyembuhkan kami. Katanya ini penyakit gen, tetapi mana buktinya sampai sekarang mereka tidak datang perhatikan kami,” kata Ahmad, warga setempat.

Desa Bajawa - NTT

Nama Bajawa menurut penuturan masyarakat setempat berasal dari kata bhajawa. Bhajawa adalah nama salah satu nua yaitu rumah atau kampung terbesar dari tujuh kampung yang berada di tepi barat kota Bajawa. Kata "bha" artinya piring dan "djawa" berarti Pulau Jawa atau perdamaian.
Bajawa dengan penduduk sekitar 45.000 meski tidak semodern kota kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur lainnya tetapi cukup cantik alamnya dan juga bersih udaranya. Di sini udaranya cukup dingin dan sejuk tetapi telah dihangatkan keramahan penduduknya yang bersahabat.
Kota Bajawa dihubungkan jaringan jalan arteri dari kawasan paling timur Pulau Flores yaitu dari Larantuka melewati kota Bajawa hingga ke bagian Flores Barat yaitu kota Labuan Bajo.
Di kota Bajawa dan sekitar Gunung Inie Rie akan Anda nikmati udara sejuk dan berpanorama alam yang indah. Bentang alam yang sangat indah tersajikan di sini seperti Laut Sawu di selatan dan Gunung Ebulobo di timur. Di Kota Bajawa sendiri dapat Anda lihat bangunan-bangunan lama berupa gereja yang masih nampak indah dan terawat sebagai  salah satu peninggalan penguasa kolonial.
Adalah Kapiten Christoffel dan pasukan kolonialnya yang berhasil menguasai Larantuka, Sikka, dan Ende, pada 27 Agustus 1907. Berikutnya mereka mencoba menaklukkan Ngada. Pergolakan pun terjadi di Rowa, Sara, Mangulewa, dan Rakalaba tetapi barhasil ditekan hingga 12 September 1907. Akhirnya tahun 1910 seluruh wilayah Flores dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda.
Pemerintahan Hindia Belanda mencoba menerapkan bentuk pemerintahan baru yang belum pernah dikenal oleh masyarakat Flores, termasuk Ngada yang secara turun temurun mengenal sistem pemerintahan otonom berbentuk nua, ulu eko, dan woe yang tradisional dan tak ada yang lebih tinggi darinya. Pemerintahan Hindia Belanda membentuk pemerintahan yang diarahkan agar suku-suku dapat disatukan dimana asalnya selalu berseteru dan berperang satu sama lain. Pendidikan pun didatangkan dari Larantuka sehingga masyarakat dapat membaca dan menulis, termasuk belajar agama Katolik.

Kegiatan
Tak jauh dari jalan utama di Bajawa, yaitu Jalan Soekarno-Hatta, Pasar Bajawa begitu sederhana namun banyak yang mengakui bahwa pasar ini termasuk di antara yang terbersih di Indonesia Timur. Hal yang paling menarik di sini bukan karena komoditi yang dipasarkan tetapi interaksi antara penjual dan pembeli yang terkenal senang berbincang-bincang dengan keramahannya.
Dusun Benadan Wogo sudah tentu disebut-sebut sebagai desa tradisional yang memiliki daya tarik luar biasa bagi petualang yang menyukai adat budaya asli. Di Bena yang letaknya 16 km dari Bajawa ditemukan jajaran rumah-rumah tradisional dengan formasi batu-batu pemujaan yang tidak populer dengan bentuk rumah yang memukau. Bukan karena kemewahannya tetapi karena kemegahan tradisinya yang dipertahankan. Lihatlah Ngadhu dan Bhaga di tengah desanya. Walau mereka yang menuju ke Bena bisa mencapainya dengan kemudahan kendaraan hingga lokasi, Bena tetap menarik dan paling populer untuk dikunjungi.
Mereka yang ingin merasakan campuran antara keaslian tradisi yang melebihi sekadar desa tradisional dan keaslian masyarakatnya maka trekking menuju satu desa yang lebih terbilang asli dapat dirancang dalam agenda perjalanan ke Dusun Belaraghi. Anda bisa bermalam di desa ini dalam kedamaian alam dan budayanya. Ada lima klan yang mengawali pembinaan desa tradisional ini. Ngadhu dan Bhaga pun memancang di tengah masyarakatnya. Lihat ukiran kuda, naga, dan terutama ayam yang disebut manu jawa.
Belaraghi dapat ditempuh dari Desa Beiposo dekat Bajawa dengan trekking sejauh kira-kira 11 kilometer atau dari Desa Paukete di dekat Aimere yang tidak begitu jauh dengan melalui bukit-bukit yang berada di selatan Pulau Flores sejauh 3 kilometer. Dari atas bukit ini terlihat ladang yang teramat luas hingga laut yang seakan tak berbatas. Belaraghi menampilkan kesederhanaan yang hampir sempurna untuk dinikmati.
Bagi mereka yang tidak begitu banyak memiliki waktu luang di Ngada namun ingin melihat desa tradisionalnya, Gurusina adalah alternatif terbaik. Di sana dapat  dilihat kekayaan budaya Ngada seutuhnya, mulai dari rumah tradisional, sao pu’u, a sa’o lobo, ngadhu, dan bhaga. Di Gurusina kegiatan bercocok tanam lebih ke arah penanaman jagung, kelapa, pisang dan juga kopi, cengkeh, kakao, serta kemiri. Menenun dan menganyam adalah kegiatan untuk para perempuan sebagai penghasilan tambahan. Jarak ke Gurusina sekitar 19 km dari Bajawa ke arah Bena, terus lewati desa tradisional Bena dan ikuti arah ke Gurusina untuk sejauh 4 km dari persimpangan.
Bumikita adalah tempat selanjutnya untuk menghilangkan rasa pegal atau jenis gangguan kesehatan lainnya saat berada di Ngada. Bumikita adalah sebuah sebuah pusat kebugaran yang dikelola oleh Ibu Maria Re’o atau sering disebut Mama Mia. Ia terkenal ramah dan murah senyum. Proyek obat-obatan tradisional yang ditanam di kawasan Bumikita adalah andalan pusat kebugaran yang terletak di Desa Ndaru ini. Tempatnya asri, tak jauh dari Bajawa.
Bila ingin menikmati aliran hangat menyelimuti tubuh di keaslian alam Flores, datanglah di pusat pemandian mata  air panas di Soa yang bernama Mengeruda Hotspring. Air yang begitu besar debitnya keluar dari bawah pohon besar dan jernih airnya begitu memesona. Aliran airnya bercampur dengan sungai air dingin dan akhirnya menyajikan air hangat yang menggelontor dari ketinggian yang menghasilkan seperti air terjun. Para wisatawan asing nampak tertidur di atas batu yang dialiri air hangatnya. Mereka bisa berlama-lama di sana untuk menghilangkan kepenatan dalam petualangan. Tempat ini sekitar 23 km dari Bajawa.
Di Ngada terdapat acara tahunan yang merupakan acara tahun baru bagi suku etnis Ngada yang disebut Reba. Acara ini melibatkan berbagai desa tradisional dan tak dipungkiri lagi, acaranya begitu semarak dan penuh keceriaan tradisi Ngada. Di hari kedua Reba, yang disebut Sedo Uwi, masyarakat akan mengenakan baju tradisional terbaik mereka dan fotografer akan begitu puas dengan hari kedua ini.
Tinju tradisional merupakan salah satu acara masyarakat lainnya yang menarik begitu banyak massa. Di Soa, masyarakat menyebutnya sagi. Di tempat lain seperti di Nagekeo, mereka menyebutnya mbela. Di Boawe, tinju tradisional ini disebut etu. Sejarahnya memang tak jelas, tapi arena atau kisanatha ini tak pernah sepi karena di sinilah para pemuda unjuk kegagahan, ingin membuktikan kejantanan, keterampilan, dan daya tarik memikat wanita mereka. Mereka mengenakan kain tradisional di badannya yang hampir tak berpelindung, juga sebuah tai kolo atau wholet, sebuah bilah batang aren yang dibalut kain dan berhias kulit kerbau. Sagi ini hanya dilakukan pada waktu tertentu yang ditetapkan oleh adat. Bila dilakukan di luar waktu maka ada sangsi adat yang dijatuhkan.

sumber : travel.kompas.com

Desa Huaxi, China - Desa Terkaya, Punya Pencakar Langit Hingga Taxi Helikopter

HUAXI - Desa Huaxi, sepertinya bisa membuktikan kepada dunia, sebagai desa terkaya di seantero China. Pasalnya, desa yang terletak di Provinsi Jiangsu tersebut memiliki bangunan pencakar langit (skyscraper) yang masuk dalam 15 gedung tertinggi di dunia, hingga transportasi publik yang bukan lagi mobil atau bus, melainkan helikopter.

Tahun lalu, desa ini memamerkan kekuatan ekonominya dengan membuka secara resmi gedung pencakar langit, Hanging Village of Huaxi. Gedung ini memiliki tinggi 328 meter. Menara ini ada di peringkat ke-15 pencakar langit tertinggi di dunia. Posisinya lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris dengan tinggi 324 meter.

Seperti dilansir Daily Mail, Kamis (9/8/2012), pembangunan menara dengan 74 lantai ini memakan waktu hingga empat tahun. Menara berupa hotel dan hunian ini memakan biaya hingga 301 juta poundsterling. Beberapa pihak membandingkan menara ini seperti trofi Piala Dunia, karena bagian puncaknya berbentuk bola kaca. Sementara pihak lain mempertanyakan kelanjutan menara ini mengingat lokasinya di Huaxi Village.

Dana untuk pembanguannya sebagian besar berasal dari warga desa, yang merayakan hari ulang tahun desanya ke-50 di saat yang bersamaan dengan pembukaan gedung tersebut secara resmi. Tiap warga memberikan uang sebesar 10 juta poundsterling.

"Bangunan ini merupakan simbol kolektivitas. Bangunan ini memiliki 800 kamar suite dan dapat menampung sekitar 2.000 orang. Ada sebuah ruang pameran, restoran berputar, kolam renang atap, dan kebun," jelas Wakil Ketua Partai Desa Zhou Li.

Di lantai 60 ada pemandangan yang menakjubkan dan patung seekor sapi jantan yang dibuat dari satu ton emas. Tujuan utama dari pencakar langit ini adalah mengurangi beban mengingat desa ini memiliki sumber daya lahan yang terbatas.

Diharapkan juga hal ini akan membantu meningkatkan standar hidup rakyat Huaxi. Desa ini telah berubah secara signifikan selama 30 tahun terakhir dari desa miskin menjadi lokasi favorit berbagai perusahaan dan simbol pertumbuhan ekonomi negara. Kini, desa Huaxi menarik para pebisnis di bidang shipping, tembakau, baja, dan tekstil. Warga di Huaxi Village pun bisa menikmati perawatan kesehatan dan pendidikan gratis.

Selain menara supertinggi dan patung lembu dari emas dengan nilai USD50 juta, kini Huaxi Village memiliki layanan taksi baru berupa helikopter. Helikopter akan membawa para penumpang dari Huaxi Village di Provinsi Jiangsu, China Timur ke kota-kota di sekitarnya selama 10 menit. Helikopter ini dioperasikan perusahaan Tongyong Airline Company.

Huaxi, yang menjadi pusat pariwisata dan teknologi baru, disebut sebagai desa dengan warga jutawan di China. "Penumpang kami harus sampai di tempat tujuan dalam waktu cepat. Jika mereka tidak menggunakan jasa kami, mereka tidak akan berada di kereta. Itu karena mereka menggunakan helikopter sendiri," jelas juru bicara perusahaan.

Desa dengan penduduk 2.000 jiwa ini telah lama dikenal sebagai desa terkaya di China. Bahkan setiap warganya memiliki simpanan setidaknya USD250 ribu di bank.

sumber : www.okezone.com

5 Desa Terindah di Dunia

Desa terindah di dunia pantas di sandang untuk 5 desa berikut ini, termasuk satu di Indonesia. Panorama alam dan kesejukan adalah hal utama bagi kita apabila menemukan atau bahkan tinggal di sebuah desa. Bisa untuk melepas penat setelah sibuk dalam pekerjaan. Selain itu keberadaan desa bisa menjadi pilihan kunjungan bagi wisatawan, karena lebih tenang di banding di wilayah perkotaan. Selain keadaannya yang jauh lebih tenang daripada kota besar, desa juga memiliki udara yang sejuk dan panorama yang sangat indah. Berikut ini 5 desa terindah di dunia yang detikTravel intip dari Budget Travel

1. WENGEN, SWISS
Berlatar belakang pegunungan Alpen serta vila tradisional dari kayu menjadikan Wengen sebagai desa dengan alam yang sangat indah. Sudah sejak 100 tahun silam kendaraan bermotor tidak boleh memasuki desa yang berada di Bernese Oberland, Swiss, dengan tujuna menjaga pesona alamnya.
Desa yang terletak pada ketinggian hampir 4.200 kaki ini juga menjadi pusat wisata sejak tahun 1800 - an. Setiap musim dingin, banyak wisatawan yang datang ke Wengen untuk berlibur dan bermain Sky. Oleh sebab itu, di lokasi banyak terdapat vila - vila yang digunakan sebagai penginapan.

Karena mobil dilarang masuk, maka wisatawan yang datang melalui jalan darat harus memarkirkan kendaraan di Lauterbrunnen. Selanjutnya, kita melanjutkan perjalanan menggunakan kereta selama 15 menit dengan biaya $ 3,50 atau sekitar Rp 33.000. Layanan kereta juga tersedia dari Interlaken waktu perjalanan sekitar 45 menit dengan biaya $ 7,45 atau sekitar Rp 70.600.

2. EZE, PERANCIS
Pemandangan Laut Mediterania dan pesona abad pertengahan membuat desa yang berada di atas tebing, Riviera, Perancis ini populer. Desa Eze menjadi dambaan penjajah selama berabad - abad. Pemandangan laut dari atas bukit serta koleksi kaktusnya menjadi daya tarik utama desa ini.

Selain itu, bangunan Chapelle de la Sainte Croix menjadi bangunan tertua di desa ini. Eze memang memiliki keindahan dan pesona yang sangat memukau. Sebagian besar wisatawan yang datang ke tempat ini ialah untuk berbulan madu.

3. NIAGARA ON THE LAKE, KANADA
Niagara on the lake menjadi desa wisata yang terkenal di tepi Danau Ontario, Kanada. Desa ini terkenal dengan taman, galeri seni, toko antik, dan lapangan golfnya.

Wisatawan juga dapat melihat situs bersejarah, seperti George Fort dan Barak Butler. Berjalan di sepanjang Queen Street yang memiliki berbagai toko kuno, kedai teh, dan B & B juga menjadi kegemaran wisatawan dan penduduk desa yang cantik ini.

Meskipun, kendaraan bermotor boleh memasuki areanya, semua yang tinggal di sana lebih suka menggunakan kereta kuda seperti delman. Desa yang juga menjadi rumah untuk Shaw Festival ( April sampai Oktober ), memiliki puluhan kebun anggur yang manarik perhatian turis.

Untuk mencapai Niagara on the lake Anda harus menempuh perjalanan dari Buffalo, New York selama kurang lebih 80 menit. Bisa juga dari Toronto, Kanada dengan waktu 90 menit.

4. PARIANGAN, INDONESIA

Pariangan merupakan sebuah desa kecil suku Minangkabau yang terletak di Tanah Datar, Sumatera Barat, Indonesia. Desa ini berada tepat di lereng Gunung Marapi yang masih aktif.
Pariangan merupakan desa tradisional yang masih dijaga kelestariannya sampai sekarang. Mulai dari budaya, adat istiadat, dan arsitektur bangunannnya yang khas masih tetap ada sampai sekarang. Bangunan rumah Gadang lengkap dengan dinding yang terbentuk dari anyaman rotan, serta berhiaskan ukiran kayu menjadi ciri khas kampung ini.

Berkat keindahan alam dan kebudayaannya yang masih terjaga, Pariaman memiliki nilai keindahan yang khusus. Apalagi dengan adanya masjid terbesar di abad ke - 19 ini, menambah kekayaan yang dimiliki oleh Desa Pariangan.
Desa Pariangan berada sekitar sembilan mil dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, bila menggunakan mobil atau motor. Jadi, jangan lupa untuk melihat kearifan budaya di tanah Pariangan!


5. Cesky Krumlov, Republik Ceko
Cesky Krumlov merupakan salah satu desa tertua di Republik Ceko. Desa dengan alamnya yang indah ini terletak di sebuah lembah di Hutan Blansko dan dilingkari oleh Sungai Vltava, Bohemia selatan.

Desa ini terkenal mulai dari arsitekturnya atau seni kota tua yang bersejarah. Para penguasa Krumlov terdahulu memiliki 40 bangunan dan istana, taman, serta menara kecil yang kini menjadi bangunan dengan nilai seni yang tinggi. Menaiki rakit kayu di Vltava, menjadi salah satu cara yang seru saat menjelajahi desa ini.

Bila tertarik, Anda bisa menempuh perjalanan sejauh 110 mil. Tenang saja! Perjalanan ini bisa dilakukan dengan menggunakan bus selama 3 jam perjalanan.

Bagaimana, tertarik untuk menjadikan salah satu dari 5 desa ini sebagai destinasi liburan Anda? Bila waktu mengizinkan Anda melihat keindahan desa-desa ini, jangan lupa untuk mengabadikan setiap detail momen yang ada.

sumber : www.memobee.com

Sabtu, 15 September 2012

Pengumuman Pejuang Desa Chapter Bogor

Selamat kepada Pejuang Desa Chapter Bogor :

1.   Kurnia Sekar Negari
2.   Annisa Meidianty
3.   Iin Anggraini
4.   Ishaq firdaus
5.   Wibawa furqona\
6.   Hana Novita
7.   Riki Muhamad Rifai
8.   Wiwi wildasri
9.   Widadi Try Rizeky
10. Kurnia Nur Faridah

Selamat bergabung di BicaraDesa.com Chapter Bogor.


"Kita Muda, Kita Peduli, Kita Beraksi"




Senin, 03 September 2012

Open Recruitment Pejuang Desa Chapter Bogor


Ngaku anak muda yang peduli sama Indonesia? Anak muda adalah pembawa perubahan. Berapa umur para pembuat perubahan? Presiden pertama Indonesia; Soekarno: di umur 20-an. Kartini menulis pemikirannya saat umur belasan tahun. Sumpah pemuda dibuat oleh anak muda dari berbagai daerah di Tanah Air. Jaman kemerdekaan banyak sekali anak muda turun tangan, mereka masih belasan tahun tetapi sumbangannya untuk kemerdekaan amat besar. Lalu bagaimana dengan kamu??
Join us!!! Pemberdayaan desa oleh anak muda :)

Syarat Pendaftaran
1. Siswa SMA/sederajat, mahasiswa, dan umum
2. Saat ini tinggal di wilayah Bogor
3. Peduli terhadap isu pemberdayaan desa
4. Bersedia mengikuti semua training yang diberikan
5. Bekomitmen untuk berkontribusi secara aktif pada desa binaan

Ketentuan Pendaftaran
1. Pendaftaran online dibuka tanggal 3 - 12 September 2012 hingga pukul 18.00 WIB
2. Pengumuman hasil seleksi 14 September 2012

isi formulir pendaftaran klik disini Pejuang Desa Chapter Bogor

Selasa, 28 Agustus 2012

Definisi Desa



Desa, atau udik, menurut definisi universal, adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari beberapa unit pemukiman kecil yang disebut kampung {Banten, Jawa Barat} atau dusun {Yogyakarta} atau banjar (Bali) atau jorong (Sumatera Barat). Kepala Desa dapat disebut dengan nama lain misalnya Kepala Kampung atau Petinggi di Kalimantan Timur, Pambakal di Kalimantan Selatan, Hukum Tua di Sulawesi Utara.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat disebut dengan istilah nagari, dan di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut dengan istilah kampung. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.